Peringatan Allah Melalui Kebinasaan Umat Terdahulu
Peringatan Allah Melalui Kebinasaan Umat Terdahulu adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 6 Dzulqa’dah 1447 H / 23 April 2026 M.
Kajian Islam Tentang Peringatan Allah Melalui Kebinasaan Umat Terdahulu
Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat-sifat penghuni surga dan kemuliaan yang mereka peroleh berupa kenikmatan kekal, serta tambahan kenikmatan tertinggi berupa kesempatan memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mulia, Allah kemudian memberikan peringatan melalui firman-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan para hamba agar takut terhadap azab-Nya, karena azab tersebut telah membinasakan kaum terdahulu yang memiliki kekuatan fisik jauh lebih besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُم بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِن مَّحِيصٍ
“Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal mereka (umat-umat itu) lebih hebat kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (dari azab Allah)?” (QS. Qaf [50]: 36)
Kekuasaan Allah dalam Menimpakan Kebinasaan
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menerangkan bahwa melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan bahwa Dia Maha Kuasa menimpakan kebinasaan sebagaimana yang telah menimpa umat-umat sebelumnya. Meskipun umat-umat terdahulu memiliki perawakan dan kekuatan fisik yang lebih perkasa dibandingkan orang-orang yang durhaka pada masa setelahnya, kekuatan tersebut tidak mampu menahan sedikit pun azab dan bencana yang ditimpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika azab mulai menyentuh mereka, kaum-kaum tersebut berbolak-balik dan berkeliling di dalam negeri mereka mencari jalan keluar demi keselamatan. Mereka diliputi ketakutan yang luar biasa sambil mencari-cari apakah ada tempat berlindung untuk lepas dari azab Allah. Namun, mereka tidak mendapati jalan keselamatan tersebut karena tidak ada seorangpun yang mampu menghindari siksaan Allah ‘Azza wa Jalla jika Dia telah menghendaki kebinasaan bagi satu kaum yang durhaka.
Peringatan ini bertujuan agar manusia merasa takut sehingga segera kembali dan berlindung kepada-Nya. Tidak ada tempat keselamatan dari kemurkaan Allah kecuali dengan menuju kepada-Nya.
Mereka yang mencari jalan selain Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan pernah mendapatkannya. Siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin dihindari oleh mereka yang durhaka apabila ketetapan-Nya telah jatuh.
Kepastian Azab Allah dan Pentingnya Kesadaran Hati
Terkait ayat diatas, Imam Qatadah, seorang ahli tafsir besar dari kalangan tabi’in, memberikan penjelasannya mengenai nasib kaum-kaum terdahulu tersebut. Imam Qatadah bin Di’amah as-Sadusi Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala berusaha mencari jalan keluar dan keselamatan saat azab menimpa. Namun, mereka mendapati bahwa keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk membinasakan mereka pasti terjadi dan tidak ada jalan untuk melarikan diri.
Senada dengan hal tersebut, Imam az-Zajjaj Rahimahullahu Ta’ala menyebutkan bahwa mereka berkeliling di kota-kota untuk mencari perlindungan, tetapi tidak menemukan jalan keluar dari kematian atau kebinasaan. Hakikat dari penjelasan Al-Qur’an dalam ayat ini adalah orang-orang kafir yang dahulu memiliki kekuatan besar tetap tidak mampu menemukan tempat berlindung dari kematian. Kebinasaan menimpa mereka semua sebagai akibat dari kedurhakaan terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peringatan ini disampaikan agar setiap hamba dapat mengambil pelajaran berharga.
Al-Qur’an sebagai Pelajaran bagi Hati yang Hidup
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa dalam peringatan-peringatan tersebut terdapat pelajaran (ibrah) bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf [50]: 37)
Pelajaran terbaik bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an, baik berupa kabar gembira maupun ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, peringatan ini hanya dapat diterima oleh orang-orang yang memiliki hati yang hidup dan mampu menampung kebenaran. Orang-orang munafik pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mendengarkan Al-Qur’an, tetapi hal itu tidak mampu membersihkan hati mereka karena hati mereka telah tertutup dan terkunci. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai kondisi mereka:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)
Kesempurnaan Sifat Allah dan Bantahan terhadap Kaum Yahudi
Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Meskipun langit dan bumi demikian besar dan luas, Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak ditimpa kelelahan atau kepayahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf [50]: 38)
Hal ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan, kekuatan, dan kemaha perkasaan-Nya. Penjelasan ini sekaligus membantah tuduhan keji orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristirahat pada hari Sabtu karena kelelahan setelah menciptakan semesta. Tuduhan tersebut adalah kedustaan besar.
Kemahakuasaan (qudrah) Allah ‘Azza wa Jalla bersifat sempurna dan tidak memiliki kekurangan sedikitpun. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tinggi dari segala pernyataan orang-orang zalim tersebut. Menciptakan apa pun tidak sulit bagi-Nya dan tidak akan membuat-Nya letih, karena Dia Maha Kokoh lagi Maha Perkasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai kemahakuasaan-Nya dalam menciptakan alam semesta tanpa rasa lelah:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak ditimpa rasa lelah.” (QS. Qaf [50]: 38)
Sebagaimana hidup Allah Subhanahu wa Ta’ala itu sempurna, maka Dia tidak ditimpa rasa kantuk maupun tidur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Demikian pula dengan kemahakuasaan dan kemaha perkasaan-Nya yang Maha Tinggi lagi Maha Sempurna, sehingga tidak ada satu hal pun yang menjadikan-Nya letih dalam menciptakan alam semesta yang luas ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya untuk membantah tuduhan orang-orang Yahudi. Mereka secara batil mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristirahat pada hari ketujuh, yaitu hari Sabtu, setelah menciptakan langit dan bumi.
Penisbahan sifat buruk ini menjadikan mereka sebagai golongan al-maghdhubi ‘alaihim (orang-orang yang dimurkai). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضَالُّونَ
“Orang-orang Yahudi adalah mereka yang dimurkai, sedangkan orang-orang Nasrani adalah mereka yang tersesat.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albani)
Orang-orang Yahudi dimurkai karena mereka memiliki ilmu namun menyalahgunakannya untuk merekayasa perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensifati-Nya dengan sifat yang tidak layak. Sementara itu, orang-orang Nasrani tersesat karena semangat beribadah tanpa didasari oleh petunjuk ilmu.
Kesabaran Allah sebagai Teladan bagi Rasulullah
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengambil teladan dalam kesabaran menghadapi perlakuan buruk para musuh. Meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Dialah yang melimpahkan rezeki kepada semua hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menyikapi keburukan hamba-Nya dengan kesabaran yang tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.” (QS. Qaf [50]: 39)
Ayat ini merupakan perintah untuk melakukan dzikir pagi dan petang dengan mensucikan serta mengagungkan asma Allah Subhanahu wa Ta’ala. Zikir tersebut diperintahkan sebagai sarana untuk menguatkan kesabaran.
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa perintah ini bertujuan agar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meneladani sifat sabar Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabar menghadapi ucapan orang-orang Yahudi yang menyebut-Nya kelelahan. Mengenai kesabaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ
“Tidak ada seorangpun yang lebih bersabar menghadapi gangguan yang didengarnya melebihi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)
Ini merupakan pelajaran bagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya agar tetap teguh dan bersabar dalam menyampaikan dakwah dengan cara yang baik, meskipun harus menghadapi berbagai cercaan dari musuh-musuh agama.
Seorang muslim hendaknya tidak membiarkan kemarahan atau emosi menguasai diri hanya karena urusan dunia. Hal ini merupakan teladan bagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan tentu saja bagi umat yang mengikuti jalan beliau dengan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk melakukan sebab-sebab yang menolong seseorang agar memiliki kesabaran yang kokoh.
Salah satu sebab utama untuk menguatkan kesabaran adalah dengan bertasbih mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memuji-Nya pada waktu pagi dan petang, yaitu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
“Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).” (QS. Qaf [50]: 39)
Dzikir pagi dan sore yang berisi pujian, sanjungan, serta pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sarana efektif untuk menguatkan sifat-sifat mulia pada diri seorang hamba. Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan ibadah pada malam hari, sebagaimana firman-Nya:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ
“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setiap selesai shalat.” (QS. Qaf [50]: 40)
Makna Adbaras Sujud
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai makna adbaras sujud (di akhir-akhir waktu shalat). Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud adalah shalat Witir sebagai penutup shalat malam. Sementara itu, pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah shalat sunah dua rakaat setelah Maghrib. Pandangan kedua ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Al-Hasan bin Ali, dan salah satu riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum.
Berzikir, mensucikan, memuji, serta melaksanakan shalat merupakan cara mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan menguatkan kesabaran dalam menghadapi gangguan. Melalui shalat, Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan pertolongan-Nya bagi hamba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45)
Kesimpulan Pelajaran dari Surah Qaf
Rangkaian ayat dalam surah Qaf memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam, di antaranya:
- Pelajaran dari Umat Terdahulu: Kisah kebinasaan umat terdahulu menjadi peringatan agar manusia merasa takut dan segera berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Kehadiran Hati dalam Menyerap Al-Qur’an: Manfaat Al-Qur’an hanya dapat diambil oleh orang yang memiliki hati yang hidup serta memusatkan pendengarannya dengan saksama dan hadir secara penuh (syahid), tidak lalai saat mendengarkan ayat-ayat-Nya.
- Kemahakuasaan Allah: Penciptaan langit dan bumi tanpa rasa lelah menunjukkan kesempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla yang tidak tertandingi.
- Sabar dan Tasbih: Menghadapi gangguan musuh harus dilakukan dengan kesabaran yang ditopang oleh tasbih dan zikir pada waktu-waktu utama, yakni pagi, petang, malam hari, serta setelah shalat.
Penjelasan Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala mengenai surah Qaf ayat 36 dan seterusnya ini merupakan nasihat yang sangat berharga. Semoga setiap hamba dapat mengambil manfaat untuk menguatkan keyakinan dan tetap berpegang teguh pada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala serta Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Peringatan Allah Melalui Kebinasaan Umat Terdahulu” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56185-peringatan-allah-melalui-kebinasaan-umat-terdahulu/